Rabu, 25 Mei 2016

Tgs Jurnal

Jurnal Saintek Perikanan Vol. 5, No. 1, 2009, 1 - 6

BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN KUNIRAN (Upeneus spp)
DI PERAIRAN DEMAK

Biological Aspects of Goatfish (Upeneus spp) on Demak Waters
Suradi Wijaya Saputra1, dan Prijadi Soedarsono1, Gabriela Ari Sulistyawati1
1Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan
Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Soedharto, SH Semarang

ABSTRAK

Ikan Kuniran termasuk salah satu sumberdaya perikanan yang menjadi spesies sasaran pada kegiatan perikanan demersal dengan alat tangkap cantrang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji beberapa aspek bilogi ikan kuniran, seperti nisbah kelamin, sifat pertumbuhan, TKG, fekunditas, ukuran rata-rata ikan tertangkap, ukuran pertama kali ikan matang gonad (Lm). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survai deskriptif. Metode pengumpulan sampel menggunakan teknik sistematik random sampling. Pengambilan sampel dilaksanakan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Morodemak, pada bulan Maret-April 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah kelamin sebesar 1:1, dan sifat pertumbuhan allometrik negatif. TKG ikan Kuniran didominasi oleh TKG tingkat I, dan fekunditas antara 44.320 butir-2.455.286 butir. Ukuran rata-rata panjang ikan tertangkap untuk ikan jantan adalah 157 mm dan ikan betina adalah 164 mm. Ukuran pertama kali matang gonad (Lm) pada ikan jantan adalah 216,44 mm dan Lm ikan betina adalah 219,71 mm.
Kata kunci : Ikan kuniran, aspek biologi, perairan demak

ABSTRACT
Goatfish is one of the fishery resources which become a target species on demersal capturing activity with cantrang (Danish seine). The objectives of this research were to know biological aspect, i.e. sex ratio, growth, fecundity, average of length capture, and length of first maturity (Lm). The method used in this reseach was description survey. While collecting sample method by using a systematic random sampling method. Samples were held in TPI Morodemak, on Maret to April 2006. The result shaw that sex ratio was 1:1, and growth was negative allometric. Gonad maturities were dominated on level I. Total of fecundity range from 44.320 to 2.455.286 eggs. Avarage of length capture of male was 157 mm, and Lc and female was 164 mm. Length of first maturity of male was 216,44 mm, and female was 219,71 mm.

Key words : Goatfish, biological aspects, Demak waters

PENDAHULUAN

Ikan Kuniran termasuk ikan demersal yang menjadi salah satu spesies sasaran dalam kegiatan perikanan tangkap dengan menggunakan cantrang. Sifat alat tangkap ini menyapu dasar perairan sehingga dapat menyebabkan ikan yang tangkapan terdiri dari berbagai ukuran sehingga dapat mempengaruhi kelestarian stok yang terdapat di alam. Apabila hasil tangkapan didominasi ikan yang berukuran terlalu kecil maka akan mengakibatkan growth overfishing, sedangkan apabila ikan yang tertangkap sebagian besar merupakan ikan yang matang gonad maka akan terjadi recruitment overfishing.

Pemanfaatan kekayaan laut yang dilakukan melalui usaha penangkapan ikan terus meningkat sehingga sehingga dapat mengakibatkan pemanfaatan yang melebihi batas MSY (Maximum Sustainable Yield) atau dapat mengakibatkan overfishing. Oleh karenanya, maka diperlukan suatu konsep pengelolaan sumberdaya ikan Kuniran dengan memperhatikan keterkaitannya dengan aspek-aspek biologis agar stok ikan yang tersedia di laut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menambah nilai ekonomis bagi masyarakat yang bermatapencaharian sebagai nelayan dan nilai ekologis sumberdaya ikan Kuniran tersebut tetap dapat dipertahankan, yaitu sumberdaya yang lestari dan berkelanjutan. Penelitian ini

Jurnal Saintek Perikanan Vol. 5, No. 1, 2009, 1 - 6

bertujuan untuk mengkaji aspek biologi ikan
Kuniran yang didasarkan hasil tangkapan
Cantran yang didaratkan di TPI Morodemak
Demak, terutama nisbah kelamin, sifat
pertumbuhan, Tingkat Kematangan Gonad
(TKG), fekunditas , ukuran rata-rata tertangkap
serta mengetahui ukuran petama kali matang
gonad (Lm).

METODE PENELITIAN

Metode Sampling
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode survei. Metode pengambilan
sampel menggunakan metode sistematik
random sampling. Syarat sampel yang diambil
adalah ikan Kuniran yang baik, utuh bagianbagian
tubuhnya dan tidak mengalami
kerusakan. Penentuan kapal sampel mengikuti
prosedur yang dikemukakan oleh Sadhotomo
dan Potier (1991) sebagai berikut :

a) Jika kapal yang mendarat kurang dari 5 buah,
dipilih satu kapal yaitu kapal nomor satu.

b) Jika kapal yang datang lebih dari 5 buah,
maka dipilih 2 buah kapal sebagai kapal
sampel. Kapal sampel pertama adalah kapal
nomor urut 1 dari daftar nomor urut kapal.
Kapal sampel kedua adalah kapal nomor 2
yang daerah penangkapannya berbeda
dengan kapal nomor 1. Jika daerah
penangkapannya sama dengan kapal nomor
1, maka kapal sampel kedua adalah kapal
nomor berikutnya dengan daerah
penangkapan yang berbeda dengan kapal
nomor 1, dan seterusnya jumlah kapal
sampel mengikuti kelipatan 5.
Data primer dikumpulkan selama bulan
Maret-April 2006. Data primer yang diteliti
meliputi data: jenis kelamin, panjang dan berat
ikan, Tingkat Kematangan Gonad (TKG) dan
jumlah telur.
Analisis Data
Nisbah Kelamin
Persamaan yang digunakan untuk
menghitung nisbah kelamin adalah sebagai
berikut :

NK = Nbi / Nji

Keterangan :

NK = Nisbah kelamin
Nbi = Jumlah ikan betina pada kelompok
ukuran ke-i
Nji = Jumlah ikan jantan pada kelompok
ukuran ke-i
Hubungan Panjang Berat
Analisis panjang berat mengikuti
persamaan sebagai berikut :
W = a . L b
Keterangan :
W = Berat (gram)
L = Panjang total ikan (mm)
a = Konstanta atau intersep
b = Eksponen atau sudut tangensial
Bentuk linier dengan persamaan tersebut
adalah :
Log W = log a + b log L
Fekunditas
Fekunditas dihitung dengan menggunakan
persamaan F =
Q
G.V.x
Keterangan :
F = Fekunditas
G = Berat gonad (gram)
V = Volume pengenceran (mL)
x = Jumlah telur dalam 1 mL (butir)
Q = Berat telur contoh (gram)

Ukuran Rata Tertangka

Ukuran rata-rata ikan tertangkap didapatkan
dengan cara memplotkan frekuensi kumulatif
dengan setiap panjang ikan, sehingga akan
diperoleh kurva logistik baku, dimana titik
potong antara kurva dengan 50% frekuensi
kumulatif adalah panjang saat 50% ikan
tertangkap (Saputra, 2005).
Ukuran Pertama Kali Matang Gonad (Lm)
Ukuran pertama kali matang gonad dihitung
menggunakan persamaan Spearman-Karber
telah dikembangkan oleh Finney (1971)
sebagaimana diacu Saputra (2005), dimana
(d.Σ Pi )
2
d
k
m x
Keterangan:
m = Logaritma dari kelas panjang pada
kematangannya yang pertama
d = Selisih logaritma dari pertambahan
nilai tengah panjang
k = Jumlah kelas panjang
xk = Logaritma nilai tengah panjang
dimana ikan 100% matang gonad
(atau dimana pi = 1)
Mengantilogkan persamaan di atas, maka Lm
dapat diduga.
Jurnal Saintek Perikanan Vol. 5, No. 1, 2009, 1 - 6

HASIL DAN PEMBAHASAN

Struktur Ukuran Ikan Kuniran yang
Tertangkap Cantrang
Sampel ikan Kuniran yang diteliti sebanyak
3000 sampel, terdiri dari 1591 ekor ikan jantan
dan 1409 ekor ikan yang berkelamin betina.
Ukuran panjang total berkisar antara 82 sampai
dengan 268 mm, dengan berat berkisar antara 8

gram sampai dengan 225 gram (Gambar 1).

Gambar 1. Histogram Komposisi Ukuran
Panjang Ikan Kuniran

Grafik tampak bahwa struktur ukuran
panjang ikan Kuniran yang tertangkap
cenderung menyebar normal, dengan modus
panjang ikan Kuniran berukuran antara 162
mm. Hal ini menunjukkan bahwa ikan Kuniran
yang tertangkap Cantran di perairan Demak dan
sekitarnya didominasi oleh satu kohort dengan
modus panjang 162 mm. Kelompok ukuran di
luar kohort utama terutama tersusun atas ikan
dengan panjang di atas 212 mm. Tidak
diidentifikasi ukuran modus kelompok tersebut,
tetapi mereka adalah ikan-ikan dewasa yang
telah matang gonad.

Nisbah Kelamin

Jumlah ikan betina yang ada dalam sampel
selama penelitian adalah 1409 ekor dan ikan
jantan 1591 ekor, sehingga nisbah kelamin ikan
Kuniran adalah 1:1,1. Berdasarkan uji Chi-
Kuadrat yang dilakukan menunjukkan bahwa
rasio kelamin ikan Kuniran jantan dan betina
tidak berbeda nyata, artinya nisbah kelamin ikan
Kuniran di perairan Demak seimbang.. Menurut
Wahyuono et al (1983) yaitu apabila jantan dan
betina seimbang atau betina lebih banyak dapat
diartikan bahwa populasi tersebut masih ideal
untuk mempertahankan kelestarian. Menurut
Sadhotomo dan Potier (1991), di perairan
perbandingan jenis kelamin ikan diharapkan
seimbang, bahkan diharapkan jumlah betina
lebih banyak daripada yang jantan sehingga
populasinya dapat dipertahankan walaupun ada
kematian alami dan penangkapan. Pendapat
yang sama juga dikemukakan oleh
Romimohtarto dan Juwana (2001), yang
menyatakan bahwa pengetahuan mengenai rasio
kelamin berkaitan dengan upaya
mempertahankan kelestarian populasi ikan yang
diteliti, maka diharapkan perbandingan ikan
jantan dan betina seimbang. Keseimbangan
perbandingan jumlah individu jantan dan betina
mengakibatkan kemungkinan terjadinya
pembuahan sel telur oleh spermatozoa hingga
menjadi individu-individu baru semakin besar
(Effendie, 2002).

Hubungan Panjang Berat
Berdasarkan analisis diperoleh persamaan
hubungan panjang berat ikan Kuniran sebagai
berikut.
Campuran : W= 0,00002.L2,946
Jantan : W= 0,00002.L2,941
Betina : W= 0,00002.L2,918
Berdasarkan pengujian terhadap nilai b
dengan t-test, ternyata t hitung t hitung > t tabel,
untuk ke tiga sumber data, sehingga kesimpulan
yang didapat adalah pertumbuhan panjang-berat
ikan Kuniran bersifat allometrik (-).Menurut
Badrudin dan Wudianto (2004), manfaat dari
informasi panjang berat antara lain adalah
bahwa melalui persamaan matematik tersebut
(W = a.Lb) maka dapat memperkirakan berat
ikan pada panjang tertentu dan sebaliknya. Pola
pertumbuhan ikan jantang dan betina relatif
tidak berbeda, dengan nilai b yang relatif sama,
yaitu 2,94 (jantan) dan 2,92(betina). Persamaan
hubungan panjang berat ikan Kuniran adalah
sebagai berikut :
Gambar 2. Grafik Hubungan Panjang Berat Ikan
Kuniran

Tingkat Kematangan Gonad

Total ikan Kuniran yang diamati Tingkat
Kematangan Gonadnya berjumlah 300 ekor
dengan rincian pengamatan TKG untuk ikan
jantan sejumlah 189 ekor, sedangkan ikan
betina sejumlah 111 ekor. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa secara umum TKG
didominasi masih pada tingkat I (22%),
sedangkan TKG dengan jumlah yang paling
sedikit terdapat pada TKG tingkat VII (2%),
menunjukkan Ikan yang tertangkap sebagian
besar dalam keadaan belum matang gonad.
Ikan jantan terdiri dari TKG I sebesar
33,33%, TKG II sebesar 19,58%, TKG III
sebesar 17,99%, TKG IV sebesar 12,17%, TKG
V sebesar 7,94%, dan TKG VI sebesar 8,99%.
Persentase TKG jantan yang tertinggi terdapat
pada TKG tingkat I ( belum berkembang).
Pada ikan Kuniran betina, TKG tingkat VI
(tahap salin) cukup dominan (23,42%). Urutan
berikutnya adalah TKG IV sebesar 22,52%,
TKG II sebesar 16,22%, TKG III sebesar
14,41%, TKG V sebesar 13,51%, TKG VII
sebesar 5,41%, dan TKG dengan jumlah
persentase terendah terdapat pada TKG I yaitu
sebesar 4,5%.
TKG dapat memberikan pengetahuan
mengenai kondisi kematangan gonad pada ikan,
apakah ikan tersebut dalam kondisi tidak masak,
hampir masak, masak, reproduksi, salin maupun
istirahat melalui ciri-ciri gonad yang dapat
diamati. Melalui pengetahuan tentang Tingkat
Kematangan Gonad akan didapat keterangan
bilamana ikan itu memijah, baru memijah atau
sudah selesai memijah.
Fekunditas
Jumlah telur ikan Kuniran yang didapatkan
dari hasil pengamatan berkisar antara 44.320
butir hingga 2.455.286 butir telur. Apabila
dilihat dari jumlah telurnya maka ikan Kuniran
termasuk ikan yang berfekunditas besar karena
jumlah telurnya lebih besar dari 10.000 butir
telur. Strategi reproduksi berdasarkan siklus
hidup yang digunakan adalah seleksi-r yang
memiliki ciri-ciri perkembangan cepat,
reproduksi dini, ukuran tubuh kecil, batas
ambang sumberdaya tinggi, dan laju
pertumbuhan populasi maksimum (Bone dan
Marshal, 1982 dalam Saputra, 2005). Ikan
Kuniran termasuk ikan yang bereproduksi dini
karena ukuran pertama kali matang gonad
dicapai pada ukuran ±100 mm atau umur 12
bulan (Bleeker, 1855 dalam
http://www.ciesm.org/atlas/Upeneusmolluccensi
s).
Hubungan Panjang-Berat dengan
Fekunditas
Korelasi antara panjang dengan fekunditas
bernilai 0,959 artinya terdapat hubungan yang
sangat kuat antara panjang dan jumlah telur


Gambar 3. Grafik Hubungan antara Panjang
dengan Fekunditas
Nilai korelasi antara berat ikan dengan
fekunditas sebesar 0,951 artinya terdapat
hubungan antara berat dan fekunditas. Korelasi
keduanya bersifat sangat kuat karena mendekati

Gambar 4. Grafik Hubungan antara Berat
dengan Fekunditas
Ukuran ikan Rata Tertangkap dan Ukuran
Pertama Kali Matang Gonad
Ukuran panjang rata-rata tertangkap
merupakan hal yang penting untuk dipelajari
karena dengan menghubungkan ukuran rata-rata
tertangkap dengan ukuran pertama kali matang
gonad maka dapat disimpulkan apakah
sumberdaya tersebut merupakan sumberdaya
yang lestari atau tidak, artinya dapat diketahui
apakah pada ukuran tertangkap tersebut ikan
tersebut telah mengalami pemijahan atau belum
mengalami pemijahan.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh
ukuran panjang rata-rata ikan Kuniran yang
tertangkap Cantrang di Perairan Demak dan
sekitarnya adalah berikut.
Ikan jantan : 157 mm
Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa ikan betina umumnya tertangkap pada usuran yang lebih besar dari ikan jantan. Panjang total maksimal yang dapat dicapai oleh ikan Kuniran ±270 mm.
Ukuran pertama kali ikan matang gonad penting diketahui karena dengan mengetahui nilai Lm maka dapat digunakan untuk menyusun suatu konsep pengelolaan lingkungan perairan. Hasil penelitian tentang ukuran Pertama Kali Matang Gonad Ikan Kuniran di Perairan Demak adalah sebagai berikut.

Ikan jantan : 216,44 mm
Ikan betina : 219,71 mm
Ikan yang telah matang gonad tetapi berukuran ≤ ukuran rata-rata tertangkap berjumlah 37 ekor (12,33%), artinya ikan Kuniran di perairan Demak retaif aman dan diduga dapat sustainable. Hal ini karena masih sangat ikan Kuniran yang telah matang gonad dan tidak tertangkap, sehingga berkesempatan untuk bereproduksi.

Hal ini berarti peluang terjadinya growt overfishing di perairan tersebut relatif kecil. growt overfishing terjadi apabila hasil tangkapan didominasi oleh ikan-ikan kecil atau ikan muda. Demikian juga apabila dilihat dari komposisi TKG hasil tangkapan, peluang terjadinya recruitment overfishing juga kecil. Recruitment overfishing atau tangkap lebih peremajaan terjadi apabila kegiatan perikanan tangkap banyak tertangkap ikan yang siap memijah (spawning stock).

Sumberdaya ikan termasuk sumberdaya yang dapat diperbaharui (renewable resources), terhadap sumberdaya tersebut nelayan dapat memperoleh manfaat berkelanjutan tanpa merusak kelestariannya. Pemanfaatan sumberdaya yang tidak terkendali akan mengakibatkan menipisnya stok, punahnya populasi ikan, akumulasi modal yang berlebih, penurunan per satuan upaya (CPUE), dan kecilnya keuntungan yang didapat. Oleh karena itu untuk mewujudkan perikanan yang sustainable diperlukan suatu upaya untuk menyusun konsep pengelolaan lingkungan perairan.

Hasil penelitian dengan melihat aspek-aspek biologi ikan Kuniran maka didapatkan bahwa usaha penangkapan ikan Kuniran di perairan Demak menggunakan Cantrang masih bersifat sustainable. Ukuran ikan yang tertangkap dengan cantrang maíz berada pada ukuran yang layak tangkap karena ikan Kuniran yang tertangkap termasuk golongan ikan dewasa dan bukan merupakan ikan muda. Pada saat yang sama, ikan yang matang gonad juga tidak menominasi komposisi hasil tangkapan..
Konsep pengelolaan dilakukan dengan cara mempertahankan ukuran mata jaring agar ukurannya tidah diubah menjadi lebih kecil dari ukuran semula agar tidak mengarah pada growth overfishing. Intensitas penangkapan perlu dibatasi agar tidak mengarah pada recruitment overfishing, yaitu apabila kegiatan perikanan banyak menangkap ikan-ikan yang telah matang gonad sehingga ikan tidak memiliki kesempatan untuk bereproduksi.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
:
1. Nisbah kelamin antara ikan Kuniran adalah sebesar 1:1.
2. Sifat pertumbuhan ikan Kuniran allometrik negatif.
3. TKG ikan Kuniran didominasi oleh TKG tingkat I.
4. Fekunditas ikan Kuniran berkisar antara 44.320-2.455.286 butir telur.
5. Ukuran panjang rata-rata ikan betina yang tertangkan Cantang lebih besar (164 mm) dari pada ikan Kuniran jantan (157 mm).
6. Ukuran pertama kali matang gonad ikan Kuniran jantan adalah 216,44 mm dan ikan Kuniran betina adalah 219,71mm.

DAFTAR PUSTAKA

Aidy, Y. 2003. Analisis Sebaran Ikan Demersal yang Tertangkap dengan Jaring Cantrang di Perairan Kabupaten Demak. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang (tesis S2).
Badrudin dan Karyana. 1992. Indeks Kelimpahan Stok Sumberdaya Ikan Demersal di Perairan Barat Kalimantan. Jurnal Penelitian Perikananan Laut No.71. BPPL. Jakarta.
________. 1998. Biomassa Ikan Pelagis di Perairan Selat Lombok. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.
________. dan Wudianto. 2004. Makalah pada Workshop Rencana Pengelolaan Perikanan Layur. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek. Jawa Timur. Dwiponggo, A.M. 1983. Pengkajian Perkiraan Potensi Sumberdaya Perikanan dan Tingkat Pengusahaannya di Perairan Pantai Utara Jawa Tengah. Laporan Penelitian Perikanan Laut. Balai Penelitian Perikanan Laut. Departemen Pertanian. Jakarta. _______________. 1992. Masalah Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Laut bagi Pemanfaatan Berkelanjutan. Departemen Pertanian. Jakarta. Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan. 

Yayasan Dewi Sri Cikuray 46. Bogor. _______________. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta. Saputra, S.W. 2005. Dinamika Populasi Udang Jari (Metapenaeus elegans de Man) dan Pengelolaannya di Laguna Segara Anakan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor (disertasi S3). Sparre, P dan Venema, S.C. 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. Buku I : Manual. Pusat Penelitian dan Pengembangan. Jakarta. Subani, W dan Barus, H.R. 1988. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut. Jurnal Penelitian Perikanan Laut no. 50.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. Suhendrata, T dan Wahyono, M.M. 1991. Pengaruh Penggunaan Cantrang (Danish Seine) terhadap Sumberdaya Ikan Demersal Studi Kasus di Kabupaten Dati II Batang. Jurnal Penelitian Perikanan Laut no.64 Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan. BPPL. Jakarta. Wahyuono, H., Budihardjo, S., Wudianto, Rustam, R. 1983. Pengamatan Parameter Biologi Beberapa Jenis Ikan Demersal di Perairan Selat Malaka Sumatera Utara. Laporan Penelitian Laut. Jakarta.

http://www.ciesm.org/atlas/Upeneusmolluccensis. html.Last update : April 2007.
http://www.fishbase.org/Photo/ThumbnailsSummary.php?ID=444.Last up date : 14 Desember 2007.
htttp://www.pelabuhanperikanan/or.id/pipp2/species html?idkat=10&idsp=68.Last up date : 2007
http://trc.ucdavis.edu/mjguinan/apcloo/modules/Reproductive/fish/overview/ overview.html.


Senin, 25 April 2016

Tgs 2 bhs indonesia 2

Tgs Bahasa Indonesia 2 Tentang Kesalahan Penalaran

A.      Macam-macam Salah Nalar
Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang tepat pada sasarannya. Oleh karena itu, dalam berkomunikasi perlu untuk kita perhatikan kalimat dalam berbahasa Indonesia secara cermat sehingga salah nalar dapat terminimalisasikan. Ada beberapa macam salah nalar, yaitu sebagai berikut :
1.    Generalisasi yang Terlalu Luas
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukunggeneralisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi tersebut sehingga kesimpulan yang diambil menjadi salah. Selain itu, salah nalar jenis ini terjadi dikarenakan kurangnya data yang dijadikan dasar generalisasi, sikap “menggampangkan”, malas untuk mengumpulkan dan menguji data secara memadai, atau ingin segera meyakinkan orang lain dengan bahan yang terbatas.
Premis adalah kalimat atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan simpulan di dalam logika. Sementara itu yang dimaksud dengan generalisasi adalah perihal membuat suatu gagasan lebih sederhana dari pada yang sebenarnya. Contoh Generalisasi yang terlalu luas sebagai berikut:
a)    Setiap orang yang telah mengikuti Penataran P4 akan menjadi manusia Pancasilais sejati.
b)   Anak-anak tidak boleh memegang barang porselen karena barang itu cepat pecah.

Ada dua bentuk kesalahan generalisasi yang biasa muncul. Dua bentuk kesalahan tersebut adalah sebagai berikut:
a.    Generalisasi Sepintas
Kesalahan ini terjadi dikarenakan penulis membuat generalisasi berdasarkan data atau evidensi yang sangat sedikit.
Contoh: Semua anak yang jenius akan sukses dalam belajar.
Pernyataan tersebut tidaklah benar karena kejeniusan atau tingkat intelegensi yang tinggi bukan satu-satunya faktor penentu kesuksesan belajar anak. Masih banyak faktor penentu lain yang terlibat seperti: motivasi belajar, sarana prasarana belajar, keadaan lingkungan belajar, dan sebagainya.




B.  Generalisasi Apriori
Salah nalar ini terjadi ketika seorang penulis melakukan generalisasi atas gejala atau peristiwa yang belum diuji kebenaran atau kesalahannya. Kesalahan corak penalaran ini sering ditimbulkan oleh prasangka. Karena suatu anggota dari suatu kelompok, keluarga, ras atau suku, agama, negara, organisasi, dan pekerjaan atau profesi, melakukan satu atau beberapa kesalahan, maka semua anggota kelompok itu disimpulkan sama. Contoh: semua pejabat pemerintah melakukan tindakan korupsi. Benarkah pernyataan tersebut? Silahkan Anda jawab.

2.    Kerancuan Analogi
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain. Analogi adalahpersamaan atau persesuaian antara dua benda atau hal yg berlainan, kiasan.Contoh dari kerancuan analogi adalah sebagai berikut:
a)    Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.
b)   Pada hari senin Patriana kuliah mengendarai sepeda motor. Pada hari selasa Patriana kuliah juga mengendarai sepeda motor. Pada hari rabu patriana kuliah pasti mengendarai sepeda motor.
c)    Rektor harus memimpin universitas seperti jenderal memimpin devisi.

3.    Kekeliruan kausalitas (sebab-akibat)
Kekeliruan kausalitas terjadi karena kekeliruan menentukan dengan tepat sebab dari suatu peristiwa atau hasil (akibat) dari suatu peristiwa atau kejadian. Contoh dari kekeliruan kausalitas (sebab-akibat) adalah sebagai berikut:
a)    Saya tidak bisa berenang karena tidak ada satupun keluarga saya yang dapat berenang.
b)   Saya tidak dapat mengerjakan ujian karena lupa tidak sarapan.

4.    Kesalahan Relevansi
Kesalahan ini akan terjadi jika antar premis tidak punya hubungan logika dengan kesimpulan. Misalnya, bukti peristiwa atau alasan yang diajukan tidak berhubungan atau tidak menunjang konklusi. Jadi, perlu berhati-hati, ketika sebuah argumen bergantung pada premis yang tidak relevan dengan konklusi, maka tidak mungkin dibangun kebenarannya. Terdapat beberapa jenis kesesatan relevansi yang umum dikenal, berikut penjelasannya:
a)    Argumentum ad hominem: terjadi jika kita berusaha agar orang lain menerima atau menolak suatu usulan, tidak berdasarkan alasan penalaran, akan tetapi karena alasan yang berhubungan dengan kepentingan si pembuat usul.
b)   Argumentum ad verecundiam: terjadi karena orang yang mengemukakannya adalah orang yang berwibawa dan dapat dipercaya, jadi bukan terjadi karena penalaran logis.
c)    Argumentum ad baculum (menampilkan kekuasaan): terjadi apabila orang menolak atau menerima suatu argumen bukan atas dasar penalaran logis, melainkan karena ancaman atau terror (bisa juga karena faktor kekuatan/kekuasaan).
d)   Argumentum ad populum (menampilkan emosi): artinya ialah ditujukan untuk massa/rakyat. Pembuktian secara logis tidak diperlukan, dan mengutamakan prinsip menggugah perasaan massa sehingga emosinya terbakar dan akhirnya akan menerima sesuatu konklusi tertentu. Contoh sederhananya seperti demonstrasi dan propaganda.
e)    Argumentum ad misericordian (menampilkan rasa kasihan): disebabkan karena adanya rasa belas kasihan. Maksudnya, penalaran ini ditunjukkan untuk menimbulkan belas kasihan sehingga pernyataan dapat diterima, dan biasanya berhubungan dengan usaha agar suatu perbuatan dimaafkan.
f)    Post hoc propter hoc: terjadi karena orang menganggap sesuatu sebagai sebab, padahal bukan. Pada suatu urutan peristiwa, orang menunjukkan apa yang terjadi lebih dahulu adalah penyebab peristiwa yang terjadi sesudahnya, padahal bukan.
g)   Petitio principii: berarti mengajukan pertanyaan dengan mengamsusikan kebenaran dari apa yang berusaha untuk dibuktikan, dalam upaya untuk membuktikannya. Dikenal dengan pernyataan berupa pengulangan prinsip dengan prinsip.
h)   Argumentum ad ignorantiam (argumen dari keridaktahuan): kesalahan terjadi ketika berargumen bahwa proposisi adalah benar hanya atas dasar bahwa belum terbukti salah, atau bahwa itu adalah salah karena belum terbukti benar.
i)     Ignorantia elenchi: terjadi karena tidak adanya hubungan logis antara premis dan konklusi.





5.    Penyandaran Terhadap Prestise Seseorang
Salah nalar disini terjadi karena penulis menyandarkan pada pendapat seseorang yang hanya karena orang tersebut terkenal atau sebagai tokoh masyarakat namun bukan ahlinya. Agar tidak terjadi salah nalar karena faktor penyebab ini, maka perlu di patuhi rambu-rambu sebagai berikut:
a)    Orang itu diakui keahliannya oleh orang lain.
b)   Pernyataan yang dibuat berkenaan dengan keahliannya, dan relevan dengan persoalan yang dibahas.
c)     Hasil pemikirannya dapat diuji kebenarannya.

Hal tersebut mengindikasikan kita sebagai penulis tidak boleh asal mengutip semata-mata karena orang tersebut merupakan orang terpandang, terkenal atau kaya raya dan baik status sosial ekonominya.

B.       Mengapa Salah Nalar Sering Terjadi
Salah nalar sering terjadi karena disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud. Contoh penyebab yang salah nalar adalah sebagai berikut:
a)    Hendra mendapat kenaikan jabatan setelah ia memperhatikan dan mengurusi makam leluhurnya.
b)   Anak wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya.

C.      Faktor Penyebab Terjadinya Salah Nalar
Terjadinya salah nalar, disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Analogi yang Salah
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain.
Contoh: Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.
2.    Argumentasi Bidik Orang
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya.
Contoh: Program keluarga berencana tidak dapat berjalan di desa kami karena petugas penyuluhannya memiliki enam orang anak

D.      Cara Mengatasi dan Menghindari Salah Nalar
Ada beberapa cara untuk mengatasi dan menghindari salah nalar. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:
a)    Memilih kata dengan baik;
b)   Harus mengetahui teori dasar dalam berpikir;
c)    Sering membaca buku agar memiliki wawasan yang luas;
d)   Memikirkan perkataan atau kalimat sebelum diucapkan;
e)    Menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar;
f)    Jangan menyimpulkan premis dengan cepat;
g)   Dapat berkomunikasi dengan baik;
h)   Tidak cepat menafsirkan atau menarik kesimpulan sebelum dikaji terlebih dahulu kebenarannya; dan lain-lain.

A.
      Kesimpulan
Berdasarkan jawaban dari rumusan masalah seperti yang telah dipaparkan pada Bab II, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal, yaitu:
1.    Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang tepat pada sasarannya. Oleh karena itu, dalam berkomunikasi perlu untuk kita perhatikan kalimat dalam berbahasa Indonesia secara cermat sehingga salah nalar dapat terminimalisasikan. Jika tidak maka akan terjadi salah nalar.
2.    Salah nalar sering terjadi karena disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud.
3.    Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain
4.    Sesungguhnya salah nalar dapat dihindari dengan mempelajari teori dalam berlogika.

B. jurnal dari penjelasan di atas:

1.Kesalahan Penalaran
Penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan.
Salah nalar dapat terjadi di dalam proses berpikir utk mengambil keputusan. Hal ini terjadi karena ada kesalahan pada cara penarikan kesimpulan. Salah nalar lebih dari kesalahan karena gagasan, struktur kalimat, dan karena dorongan emosi.
Salah nalar ada dua macam:
  1. Salah nalar induktif, berupa :
2.      kesalahan karena generalisasi yang terlalu luas,
3.      kesalahan penilaian hubungan sebab-akibat,
4.      kesalahan analogi.
2. Kesalahan deduktif dapat disebabkan :
1.                  kesalahan karena premis mayor tidak dibatasi;
2.                  kesalahan karena adanya term keempat;
3.                  kesalahan karena kesimpulan terlalu luas/tidak dibatasi; dan
4.                  kesalahan karena adanya 2 premis negatif.
Fakta atau data yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar.

Pengertian dan contoh salah nalar :

  1. Gagasan,
  2. pikiran,
  3. kepercayaan,
  4. simpulan yang salah, keliru, atau cacat.

Dalam ucapan atau tulisan kerap kali kita dapati pernyataan yang mengandung kesalahan. Ada kesalahan yang terjadi secara tak sadar karena kelelahan atau kondisi mental yang kurang menyenangkan, seperti salah ucap atau salah tulis misalnya.
Ada pula kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan, disamping kesalahan yang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu. Kesalahan yang kita persoalkan disini adalah kesalahan yang berhubungan dengan proses penalaran yang kita sebut salah nalar. Pembahasan ini akan mencakup dua jenis kesalahan menurut penyebab utamanya, yaitu kesalahan karena bahasa yang merupakan kesalahan informal dan karena materi dan proses penalarannya yang merupan kesalahan formal.
Gagasan, pikiran, kepercayaan atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat disebut sebagai salah nalar.
Berikut ini salah nalar yang berhubungan dengan induktif, yaitu :
A. Generelisasi terlalu luas
Contoh : perekonomian Indonesia sangat berkembang
B. Analogi yang salah
Contoh : ibu Yuni, seorang penjual batik, yang dapat menjualnya dengan harga terjangkau. Oleh sebab itu, ibu Lola seorang penjual batik, tentu dapat menjualya dengan harga terjangkau.
Jenis – jenis salah nalar
1.                  Deduksi yang salah : Simpulan dari suatu silogisme dengan diawali premis yang salah atau tidak memenuhi persyaratan.
contoh :
  • Kalau listrik masuk desa, rakyat di daerah itu menjadi cerdas.
  • Semua gelas akan pecah bila dipukul dengan batu.
  1. Generalisasi terlalu luas
Salah nalar ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi itu sehingga simpulan yang diambil menjadi salah.
Contoh :
  • Setiap orang yang telah mengikuti Penataran P4 akan menjadi manusia Pancasilais sejati.
  • Anak-anak tidak boleh memegang barang porselen karena barang itu cepat pecah.
  1. Pemilihan terbatas pada dua alternatif
Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan jawaban yang ada.
Contoh :
  • Orang itu membakar rumahnya agar kejahatan yang dilakukan tidak diketahui orang lain.
  1. Penyebab Salah Nalar
Salah nalar ini disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud.
Contoh:
  • Broto mendapat kenaikan jabatan setelah ia memperhatikan dan mengurusi makam leluhurnya.
  • Anak wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya.
  1. Analogi yang Salah
Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain.
Contoh:
  • Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.
  1. Argumentasi Bidik Orang
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya.
Contoh:
  • Program keluarga berencana tidak dapat berjalan di desa kami karena petugas penyuluhannya memiliki enam orang anak.
Konsep dan simbol dalam penalaran
Penalaran juga merupakan aktifitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen. Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen.
Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis. Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi.
Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.

KESIMPULAN

Jadi, maksud dari penalaran adalah untuk menemukan kebenaran. Dan Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi :
  • Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
  • Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
C. Penjelasan Jurnal penalaran yang ke 2

A.  Pengertian dan Jenis Penalaran

Penalaran (reasioning) adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta atau petunjuk menuju suatu kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir yang sistematik dalan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan. Bahan pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman, atau pendapat para ahli (otoritas).
Secara umum, ada dua jenis penalaran atau pengambilan kesimpulan, yakni penalaran induktif dan deduktif.

1.   Penalaran Induktif dan Coraknya
Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang khusus menuju sesuatu yang umum.

Penalaran Induktif dapat dilakukan dengan tiga cara:

a.   Generalisasi

Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa itu. Generalisasi diturunka dari gejala-gejala khusus yang diperoleh melalui pengalaman, observasi, wawancara, atau studi dokumentasi. Sumbernya dapat berupa dokumen, statistik, kesaksian, pendapat ahli, peristiwa-peristiwa politik, sosial ekonomi atau hukum. Dari berbagai gejala atau peristiwa khusus itu, orang membentuk opini, sikap, penilaian, keyakinan atau perasaan tertentu.
Beberapa contoh penalaran induktif dengan cara generalisasi adalah sebagai berikut:

1)   Berdasarkan pengalaman, seorang ibu dapat membedakan atau menyimpulkan arti tangisan bayinya, sebagai ungkapan rasa lapar atau haus, sakit atau tidak nyaman.

2)   Berdasarkan pengamatannya, seorang ilmuwan menemukan bahwa kambing, sapi, onta, kerbau, kucing, harimau, gajah, rusa, kera adalah binatang menyusui. Hewan-hewan itu menghasilkan turunannya melalui kelahiran. Dari temuannya itu, ia membuat generalisasi bahwa semua binatang menyusui mereproduksi turunannya melalui kelahiran.

b.   Analogi

Analogi adalah suatu proses yag bertolak dari peristiwa atau gejala khusus yang satu sama lain memiliki kesamaan untuk menarik sebuah kesimpulan. Karena titik tolak penalaran ini adalah kesamaan karakteristik di antara dua hal, maka kesimpulannya akan menyiratkan ”Apa yang berlaku pada satu hal, akan pula berlaku untuk hal lainya”. Dengan demikian, dasar kesimpula yang digunakan merupakan ciri pokok atau esensial dari dua hal yang dianalogikan.
Beberapa contoh penalaran induktif dengan cara analogi adalah sebagai berikut:

1)   Dalam riset medis, para peneliti mengamati berbagai efek dari bermacam bahan melalui eksperimen binatang seperti tikus dan kera, yang dalam beberapa hal memiliki kesamaan karakter anatomis dengan manusia. Dari kajian itu, akan ditarik kesimpulan bahwa efek bahan-bahan uji coba yang ditemukan pada binatang juga akan terjadi pada manusia.

2)   Dr. Maria C. Diamond, seorang profesor anatomi dari University of California tertarik untuk meneliti pengaruh pil kontrasepsi terhadap pertumbuha cerebral cortex wanita, sebuah bagian otak yang mengatur kecerdasan. Dia menginjeksi sejumlah tikus betina dengan sebuah hormon yang isinya serupa dengan pil. Hasilnya tikus-tikus itu memperlihatkan pertumbuhan yang sangat rendah dibandingkan dengan tikus-tikus yang tidak diberi hormon itu. Berdasarkan studi itu, Dr. Diamond menyimpulkan bahwa pil kontrasepsi dapat menghambat perkembangan otak penggunanya.

Dalam contoh penelitian tersebut, Dr. Diamond menganalogikan anatomi tikus dengan manusia. Jadi apa yang terjadi pada tikus, akan terjadi pula pada manusia.
c.   Hubungan Kausal (Sebab Akibat)

Penalaran induktif dengan melalui hubungan kausal (sebab akibat) merupakan penalaran yang bertolak dari hukum kausalitas bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini terjadi dalam rangkaian sebab akibat. Tak ada suatu gejala atau kejadian pun yang muncul tanpa penyebab.

Cara berpikir seperti itu sebenarnya lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya dalam dunia ilmu pengetahuan.
Contoh:

1)   Ketika seorang ibu melihat awan tebal menggantung, dia segera memunguti pakaian yang sedang dijemurnya. Tindakannya itu terdorong oleh pengalamannya bahwa mendung tebal (sebab) adalah pertanda akan turun hujan (akibat).

2)   Seorang petani menanam berbagai jenis pohon dipekarangannya, tanaman tersebut dia sirami, dia rawat dan dia beri pupuk. Anehnya, tanaman itu bukannya semakin segar, melainkan layu bahkan mati. Tanaman yang mati dia cabuti. Ia melihat ternyata akar-akarnya rusak da dipenuhi rayap. Berdasarkan temuannya itu, petani tersebut menyimpulkan bahwa biang keladi rusaknya tanaman (akibat) adalah rayap (sebab).

2.   Penalaran Deduktif dan Coraknya

Penalaran deduksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang umum (prinsip, hukum, teori atau keyakinan) menuju hal-hal khusus. Berdasarkan sesuatu yang umum itu, ditariklah kesimpulan tentang hal-hal khusus yang merupakan bagian dari kasus atau peristiwa khusus itu.

Contoh :
Semua makhluk hidup akan mati
Manusia adalah makhluk hidup
Karena itu, semua manusi akan mati.
Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa proses penalaran itu berlangsung dalam tiga tahap.
Pertama, generalisasi sebagai pangkal bertolak (pernyataan pertama merupakan generalisasi yang bersumber dari keyakina atau pengetahuan yang sudah diketahui dan diakui kebenarannya.
Kedua, penerapan atau perincian generalisasi melalui kasus atau kejadian tertentu.
Ketiga, kesimpulan deduktif yang berlaku bagi kasus atau peristiwa khusus itu.
Penalaran deduktif dapat dilakukan dengan dua cara:
a.   Silogisme

Silogisme adalah suatu proses penalaran yang menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan sebuah kesimpulan yang merupakan proposisi yang ketiga. Proposisi merupakan pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung didalamnya.

Dari pengertian di atas, silogisme terdiri atas tiga bagian yakni: premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Yang dimaksud dengan premis adalah proposisi yang menjadi dasar bagi argumentasi. Premis mayor mengandung term mayor dari silogisme, merupakan geeralisasi atau proposisis yang dianggap bear bagi semua unsur atau anggota kelas tertentu. Premis minor mengandung term minor atau tengah dari silogisme, berisi proposisi yang mengidentifikasi atau menuntuk sebuah kasus atau peristiwa khusus sebagai anggota dari kelas itu. Kesimpulan adalah proposisi yang menyatakan bahwa apa yang berlaku bagi seluruh kelas, akan berlaku pula bagi anggota-anggotanya.

Contoh:
Premis mayor         : Semua cendekiawan adalah pemikir
Premis minor         : Habibie adalah cendekiawan
Kesimpulan           : Jadi, Habibie adalah pemikir.
b.   Entinem
Entiem adalah suatu proses penalaran dengan menghilangkan bagian silogisme yang dianggap telah dipahami.
Contoh:
Berangkat dari bentuk silogisme secara lengkap:
Premis mayor         : Semua renternir adalah penghisap darah dari orang yang
sedang kesusahan
Premis minor         : Pak Sastro adalah renternir
Kesimpulan           : Jadi, Pak Sastro adalah peghisap darah orang yag
kesusahan.
Kalau proses penalaran itu dirubah dalam bentuk entinem, maka bunyinya hanya menjadi ”Pak Sastro adalah renternir, yang menghisap darah orang yang sedang kesusahan.”

B.   Hubungan Menulis Karya Ilmiah dengan Penalaran
Karya tulis ilmiah adalah tulisan yang didasari oleh pengamatan, peninjauan atau penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Atas dasar itu, sebuah karya tulis ilmiah harus memenuhi tiga syarat:

1.   Isi kajiannya berada pada lingkup pengetahuan ilmiah
2.   Langkah pengerjaannya dijiwai atau menggunakan metode ilmiah
3.   Sosok tampilannya sesuai da telah memenuhi persyaratan sebagai suatu sosok tulisan keilmuan.

Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa penalaran menjadi bagian penting dalam proses melahirkan sebuah karya ilmiah. Penalaran dimaksud adalah penalaran logis yang mengesampingkan unsur emosi, sentimen pribadi atau sentimen kelompok. Oleh karena itu, dalam menyusun karya ilmiah metode berpikir keilmuan yang menggabungkan cara berpikir/penalaran induktif dan deduktif, sama sekali tidak dapat ditinggalkan.
Metode berpikir keilmuan sendiri selalu ditandai dengan adanya:

1.   Argumentasi teoritik yang benar, sahih dan relevan
2.   Dukungan fakta empirik
3.   Analisis kajia yang mempertautkan antara argumentasi teoritik dengan fakta empirik terhadap permasalahan yang dikaji.

C.   Salah Nalar, Pengertian dan Macamnya

Salah nalar (reasioning atau logical fallacy) adalah kekeliruan dalam proses berpikir karena keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan. Kekeliruan ini dapat terjadi karena faktor emosional, kecerobohan atau ketidaktahuan.

Contoh sederhana:

Seseorang mengatakan, ”Di sekolah, Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang terpenting. Tanpa menguasai Bahasa Indonesia seorang siswa tidak mungkin dapat memahami mata pelajaran lainnya dengan baik.”
Pernyataan tersebut tidaklah tepat. Bahwa Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran penting, memang benar. Tetapi kalau dikatakan terpenting, tampaknya perlu dipertanyakan.
Salah tafsir dapat terjadi karena kekeliruan induktif, deduktif, penafsiran relevansi dan peggunaan otoritas yang berlebihan.
Salah nalar dapat dibedakan atas 4 (empat) macam:
1.   Generalisasi yang terlalu luas
Salah nalar ini terjadi karena kurangnya data yang dijadikan dasar generalisasi, sikap menggampangkan, malas mengumpulkan dan menguji data secara memadai, atau ingin segera meyakinkan orang lain dengan bahan yag terbatas. Paling tidak ada dua kesalahan generalisasi yang muncul:
a.   Generalisasi sepintas (Hasty or sweeping generalization)

Kesalahan terjadi karena penulis membuat generalisasi berdasarkan data atau evidensi yang sangat sedikit.
Contoh: Semua anak yang jenius akan sukses dalam belajar.
Pernyataan tersebut tidaklah benar, karena kejeniusan atau tingkat intelegensi yang tinggi bukan satu-satunya faktor penentu kesuksesan belajar anak. Karena masih banyak faktor penentu lain yang teribat seperti: motivasi belajar, sarana prasarana belajar, keadaan lingkungan belajar, dan sebagainya.

b.   Generalisasi apriori

Salah nalar ini terjadi ketika seorang penulis melakukan generalisasi atas gejala atau peristiwa yang belum diuji kebenaran atau kesalahannya. Kesalahan corak penalaran ini sering ditimbulkan oleh prasangka. Karena suatu anggota dari suatu suatu kelompok, keluarga, ras atau suku, agama, negara, organisasi, dan pekerjaan atau profesi, melakukan satu atau beberapa kesalahan, maka semua anggota kelompok itu disimpulkan sama.

Contoh: Semua pejabat pemerintah korup; Para remaja sekarang rusak moralnya; Zaman sekarang, tidak ada orang berbuat tanpa pamrih; dan sebagainya.

2.   Kerancuan analogi

Kerancuan analogi disebabkan karena penggunaan analogi yang tidak tepat. Dua hal yang diperbandingkan tidak memiliki kesamaan esensial (pokok).
Contoh:

”Negara adalah kapal yang berlayar menuju tanah harapan. Jika nahkoda setiap kali harus meminta anak buahnya dalam menentukan arah berlayar, maka kapal itu tidak akan kunjung sampai. Karena itu demokrasi pemerintahan tidak diperlukan, karena menghambat.”

3.   Kekeliruan kasualitas (sebab akibat)
Kekeliruan kasualitas terjadi karena kekeliruan menentukan sebab.
Contoh:

a.   Saya tidak bisa berenang, karena tidak ada satupun keluarga saya yang dapat berenang.
b.   Saya tidak dapat mengerjakan ujian karena lupa tidak sarapan

4.   Kesalahan relevansi

Kesalahan relevansi akan terjadi apabila bukti yang diajukan tidak berhubungan atau tidak menunjang sebuah kesimpulan. Corak kesalahan ini dapat dirinci menjadi 3 (tiga) macam:

a.   Pengabaian persoalan (ignoring the question)
Contoh:
Korupsi di Indonesia tidak bisa diberantas, karena pemerintah tidak memiliki undang-undang khusus tentang hal itu.

b.   Penyembunyian persoalan (biding the question)
Contoh:
Tidak ada jalan lain untuk memberantas korupsi kecuali pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri.

c.   Kurang memahami persoalan

Salah nalar ini terjadi karena penulis mengemukakan pendapat tanpa memahami persoalan yang dihadapi dengan baik. Sehingga pendapat yang disampaikan tidak mengena atau berputar-putar dan tidak menjawab secara benar atau persoalan yang terjadi.

5.   Penyandaran terhadap prestise seseorang
Salah nalar disini terjadi karena penulis menyandarkan pada pendapat seseorang yang hanya karena orang tersebut terkenal atau sebagai tokoh masyarakat namun bukan ahlinya.
Agar tidak terjadi salah nalar karena faktor penyebab ini, maka perlu di patuhi rambu-rambu sebagai berikut:

a.   Orang itu diakui keahliannya oleh orang lain
b.   Pernyataan yang dibuat berkenaan dengan keahliannya, dan relevan dengan persoalan yang dibahas.
c.   Hasil pemikirannya dapat diuji kebenarannya

Hal tersebut mengindikasikan kita sebagai penulis tidak boleh asal mengutip semata-mata karena orang tersebut merupakan orang terpandang, terkenal atau kaya raya dan baik status sosial ekonominya.


Referensi :
Bahasa Indonesia/Sepitri